Monthly Archives: August 2017

Beberapa Hal yang Harus Anda Perhatikan Saat Merawat Lansia

Dalam merawat lansia ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan

 

Menurut data dari Kementerian Kesehatan, seseorang dapat di katakan sebagai lansia adalah mereka yang telah memasuki usia di atas 60 tahun atau lebih. Lansia sangat memerlukan perhatian khusus, karena kemampuan tubuhnya yang tidak sesehat atau sekuat yang dulu. Merawat lansia bisa di katakana tidak mudah akan tetapi tidak juga sulit untuk di lakukan

Beberapa hal berikut ini penting untuk Anda perhatikan dalam merawat lansia.

1. Ketahui batasan normal tekanan darah

Setiap orang memiliki standar tertentu jika terkait dengan masalah kesehatan. Misalnya, jika tekanan darah Anda biasanya 120/80 dan jika tiba-tiba tekanan darah Anda naik ke 130/90, Anda tahu ada sesuatu yang salah dan harus diperhatikan. Hal tersebut pun sama terhadap lansia. Mengetahui angka yang biasa tertera di laporan kesehatan seorang lansia dapat membantu Anda mendeteksi lebih awal jika ada yang tidak beres dengan keadaan lansia.

Sebagai perbandingan, tekanan darah yang terbilang normal adalah 120/80. Jika lebih tinggi dari 120/80 tapi kurang dari 140/90, maka keadaan tersebut dikatakan sebagai pre hipertensi, lebih dari 140/90 maka sudah tergolong hipertensi.

Tetapi ada baiknya Anda ingat bahwa semua nilai-nilai laboratorium ataupun pemeriksaan klinis juga bergantung dari faktor usia maupun jenis kelamin. Misalnya, nilai laju endap darah pada perempuan dan pada usia lanjut lebih tinggi jika dibandingkan dengan pria dan usia muda. Atau jika seorang lansia mengalami diabetes maka tekanan darahnya tidak boleh lebih dari 130/80. Karena itu, mengetahui berapa biasanya standar angka-angka tersebut pada lansia akan sangat membantu terutama jika Anda merawat lansia yang sudah memiliki penyakit sebelumnya.

2. Memperhatikan asupan gizi

Kebutuhan gizi yang di perlukan di tiap tahap kehidupan tentunya berbeda, tidak terkecuali bagi lansia. Bagi laki-laki yang memasuki usia 65 sampai 80 tahun disarankan untuk mengonsumsi 1900 kkal per hari dan yang berusia di atas 80 tahun membutuhkan 1525 kkal per harinya. Sementara perempuan berusia 65-80 tahun membutuhkan 1500 kkal dan yang berusia di atas 80 tahun membutuhkan 1425 kkal per harinya.

Sama seperti umumnya kebanyakan orang, lansia juga memerlukan asupan zat gizi yang seimbang dan beragam. Menerapkan konsep gizi seimbang pada lansia dapat membantu mencegah timbulnya penyakit. Usahakan untuk memasukkan sayur buah dalam menu sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral harian lansia. Jika lansia sudah merasakan sulit untuk mengunyah, sayur dan buah bisa dijus. Kombinasikan berbagai cara mengolah makanan agar kesulitan saat mencoba mengunyah tidak menjadi halangan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian dari lansia.

Jangan lupa asupan air juga tetap harus terpenuhi. Jika lansia tidak bisa minum air terlalu banyak, siasati dengan cara menyajikan makanan berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air.

3. Perawatan gigi dan mulut

Berikut merupakan Beberapa masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi pada lansia yaitu diantaranya:

a.Warna gigi menjadi lebih gelap: pada beberapa kasus yang sudah terjadi, perubahan warna gigi ini terjadi karena perubahan pada dentin, suatu jaringan yang terdapat di bawah enamel gigi. Jika sering mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat merubah warna gigi (seperti kopi atau teh), warna dentin dapat berubah. Penipisan enamel gigi juga dapat terjadi sehingga bisa menyebabkan lapisan yang berwarna lebih gelap untuk muncul ke permukaan.

b.Mulut kering: kondisi ini terjadi karena berkurangnya produksi air liur dalam mulut. Yang di sebabkan karena penggunaan obat, efek pengobatan kanker, atau karena penyakit tertentu yang diderita.

c.Gingivitis dan periodontitis: merupakan jenis masalah pada gusi di mana gusi menjadi kemerahan, bengkak, dan mudah sekali berdarah. Gingivitis mudah disembuhkan dengan praktik membersihkan gigi dan mulut yang benar. Kunjungan ke dokter gigi juga dapat membantu mengurangi risiko gingivitis bertambah parah. Jika tidak diobati, gingivitis akan menjadi periodontitis. Pada periodontitis, gusi seolah terpisah dari gigi dan membentuk celah atau kantung yang terinfeksi. Bakteri yang terdapat pada area terinfeksi dapat menyebabkan gigi menjadi mudah copot.

Tanyakan apakah lansia memiliki kesulitan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya. Misalnya, bisa saja lansia tidak bersih menggosok gigi karena pergelangan tangannya sudah sakit. Ada juga lansia yang tidak sadar kalau gigi palsu yang digunakan sudah kotor atau ukurannya tidak pas. Jika masalah pada gigi terus berlanjut, segera konsultasikan ke dokter.

4. Masalah kesehatan kulit

Seiring bertambahnya usia, kulit kita juga mengalami perubahan. Perubahan ini bergantung pada beberapa aspek seperti misalnya gaya hidup, pola makan, keturunan, dan kebiasaan lainnya. Terpapar sinar matahari merupakan salah satu penyebab utama kerusakan kulit. Sinar ultraviolet dapat menyebabkan kerusakan jaringan elastis pada kulit yang dapat menyebabkan kulit kendur, muncul kerutan, bahkan dapat memicu kanker kulit. Faktor lain yang berkontribusi yaitu hilangnya jaringan lemak yang terdapat antara kulit dan otot wajah, stres, gravitasi, kebiasaan menggerakkan muka (baik tersenyum maupun merengut), hingga obesitas.

Beberapa masalah kesehatan kulit yang biasa terjadi pada lansia yaitu timbulnya kerutan, garis wajah yang semakin tampak jelas (atau biasa disebut juga garis senyum), kulit kering dan gatal karena berkurangnya kelenjar minyak di kulit, bitnik hitam, hingga kanker kulit.

5. Waspadai depresi

Depresi yang di alami oleh lansia berbeda dengan mereka yang masih berusia muda. Depresi pada usia lanjut biasanya disebabkan oleh penyakit dan disabilitas. Lansia yang tadinya terbiasa beraktivitas secara bebas, mandiri tiba-tiba menjadi terbatas pergerakannya karena penyakit maupun kemampuan tubuh yang menurun juga bisa mengalami depresi.

Depresi yang terjadi pada lansia dapat memperbesar risiko munculnya penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung. Risiko kematian pada lansia yang sedang sakit lalu depresi juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan lansia sakit yang tidak depresi. Kemungkinan bunuh diri juga meningkat pada lansia yang mengalami depresi.

Menurut informasi yang di dapatkan dari National Institute of Mental Health menyatakan bahwa depresi pada usia lansia sebagai masalah kesehatan masyarakat yang harus ditangani.

Depresi yang terjadi pada lansia sulit diketahui tanda dan gejalanya. Terkadang depresi menyebabkan mereka seolah olah selalu terlihat lelah, mempunyai masalah untuk tidur, dan gampang marah atau tersinggung. Tetapi secara keseluruhan tidak ada tanda-tanda jelas seseorang mengalami depresi.

Memeriksakan diri ke dokter adalah salah satu cara yang efektif untuk menegakkan diagnosis depresi pada lansia. Jika Anda merawat lansia yang depresi, jangan lupa untuk selalu memantau keadaan lansia dan memeriksakan perubahan-perubahan yang terjadi baik pada dokter ataupun psikolog.

11 Cara Agar Rumah Tetap Aman Bagi Lansia

11 Penyesuaian yang perlu di lakukan, Supaya Rumah Tetap Aman Bagi Lansia

Cedera diakibatkan karena terjatuh atau terbentur bisa berakibat fatal bagi orang tercinta yang sudah memasuki usia lanjut (lansia). Jadi, bila orangtua atau kerabat Anda yang sudah lansia tetap bersikukuh untuk tinggal sendiri di rumah, Anda perlu melakukan berbagai macam penyesuaian. Ini supaya agar lansia bisa hidup secara mandiri dan Anda juga jadi lebih tenang ketika sedang tidak berada di rumah. Berikut merupakan  sebelas hal yang harus Anda perhatikan dan pastikan apabila orangtua atau lansia tinggal sendiri di rumah.

 

1. Tambah pencahayaan

Daya Penglihatan orang tua akan semakin berkurang seiring berjalannya waktu, apalagi ketika memasuki waktu malam hari. Oleh karna itu, pastikan semua ruangan di rumah sudah cukup terang untuk lansia. Pasang lampu tambahan terutama di tempat-tempat yang butuh pencahayaan maksimal, seperti di dapur, di kamar mandi, dan di ruang tengah. Jika lampunya kurang terang, lansia bisa jadi salah membaca dosis obat atau jenis bumbu masak.

 

2. Pasang railing yang kokoh

Railing atau pegangan sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan lansia. Pasang railing yang kokoh, terutama di kamar mandi dan di tempat-tempat lain yang strategis. Misalnya kalau ada undakan di dalam rumah.

 

3. Sediakan tempat duduk di kamar mandi

Agar tak mudah lelah dan kehilangan keseimbangan, sediakan tempat duduk di kamar mandi. Jangan biarkan lansia duduk di atas kloset karena licin. Kalau bisa memang tempat duduk ini  cukup kuat dan ada sandarannya, agar ketika berusaha bangkit kursinya tidak akan bergeser karena licin. Untuk membantu lansia duduk dan berdiri, pasang railing di sisi tempat duduk.

 

4. Ganti toilet jongkok dengan toilet duduk

Kalau selama ini di rumah orangtua Anda masih memakai jenis toilet jongkok, segeralah ganti dengan toilet duduk yang tingginya pas. Ini karena toilet jongkok lebih berisiko dan kurang nyaman bagi lansia.

 

5. Usahakan kamar tidur di lantai satu

Jika rumah anda adalah jenis yang bertingkat. Usahakan kamar tidur untuk lansia berada di lantai satu. Kalau lansia tinggal sendiri, pindahkan kamar tidur dan kamar mandi jadi ke lantai satu supaya tak perlu naik turun tangga tanpa bantuan. Sebaiknya memang semua ruang utama (yang sering dipakai beraktivitas) terletak di lantai satu. Lantai dua bisa digunakan untuk penyimpanan barang atau kamar tamu.

 

6. Atur tinggi tempat tidur

Pastikan orang tercinta Anda bisa naik ke tempat tidur dan bangun dengan aman. Untuk itu, sebaiknya atur supaya tempat tidur tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Jika perlu, ganti kerangka tempat tidur yang lama. Menurut sebuah penelitian dalam Journal of the Academy of Medical-Surgical Nurses, sebaiknya tempat tidur lansia dibuat kira-kira setinggi lutut.

 

7. Hindari permukaan lantai atau keset yang licin

Agar tak mudah tergelincir, usahakan agar permukaan lantai atau keset tidak licin. Lantai dari kayu dan keramik memang lebih aman dibandingkan lantai marmer. Namun, untuk menyiasatinya Anda juga bisa memasang karpet yang teksturnya agak kasar. Pastikan juga keset di rumah menempel kuat pada permukaan lantai.

 

8. Sediakan senter di setiap sudut rumah

Untuk menyiapkan lansia dalam kondisi darurat seperti mati listrik, siapkan senter dan lampu darurat di setiap sudut rumah. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tengah, sampai garasi. Ajari orang tercinta Anda untuk mengoperasikan senter dan lampu darurat tersebut. Misalnya cara mengisi ulang daya baterai atau cara menyalakan dan mematikan lampu darurat.

 

9. Pasang bel di pagar atau pintu depan

Pendengaran lansia akan semakin melemah seiring berjalannya waktu. Jadi, pasang bel yang suaranya cukup keras di pagar atau pintu depan rumah supaya lansia tetap bisa mendengar saat ada tamu.

 

10. Pakai timer untuk memasak

Meskipun tampak sepele, timer untuk memasak sangat penting guna mencegah kebakaran atau masakan gosong. Pasalnya, lansia mungkin jadi lebih mudah lupa saat meninggalkan makanan atau rebusan air di dapur. Selalu ingatkan orangtua untuk menggunakan timer setiap kali menyalakan kompor, oven, atau penghangat makanan (microwave).

 

11. Hindari alat makan dari kaca atau keramik

Alat makan seperti piring, gelas, mangkok, dan sendok dari kaca atau keramik tebal lebih berat dan mudah pecah. Hal ini berisiko tinggi menyebabkan cedera. Maka, bila lansia sedang di tinggal di rumah sendiri gunakan alat makan dari melamin, plastik, atau keramik yang tipis dan ringan, sehingga mengurangi resiko cedera tersebut.

 

Beberapa Jenis Olahraga yang cocok Untuk warga lanjut usia

Beberapa Jenis Olahraga yang cocok Untuk warga lanjut usia

Secara umum banyak warga senior yang sudah memasuki usia 65 tahun menghabiskan waktunya selama 10 jam atau lebih hanya untuk duduk dan berbaring tanpa melakukan aktivitas lain, hal tersebut memicu gaya hidup sedentari. Menerapkan pola  Gaya hidup seperti itu sangat rentan menyebabkan munculnya berbagai penyakit degeneratif.

Oleh karena itu, para warga usia lanjut yang telah memasuki usia 65 tahun keatas di anjurkan untuk melaksanakan kegiatan olahragaolahraga harus mulai di lakukan sejak usia dini dan di lakukan sampai usia lanjut, karena dengan melakukan olahraga secara rutin dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh , bertambahnya proses metabolism tubuh, dan dapat mencegah berbagai penyakit kronis seperti diabetes mellitus, jantung koroner, stroke, hipertensi, obesitas, dan penyakit lainnya.

Berolahraga juga sangat bermanfaat untuk para warga usia lanjut diantaranya yaitu, membantu untuk menjaga kebugaran, membuat otot, sendi, serta tendon kuat dan menurunkan risiko terkena cedera.

 

Jenis olahraga apa saja yang cocok untuk para warga senior yang sudah memasuki usia lanjut? Berikut merupakan beberapa jenis olahraga yang di rekomendasikan.

 

1.Olahraga aerobik

Dengan olahraga Aerobik dapat membantu para warga usia lanjut untuk membakar lemak berlebih, menurunkan tekanan darah dan kolesterol jahat, dan menjaga kelenturan dan kesehatan sendi, menjaga kesehatan jantung, serta dapat meningkatkan tingkat energi tubuh secara keseluruhan. Membangun kekuatan tubuh memang membutuhkan waktu dan tergantung dengan tingkat aktivitas dan status kesehatan yang Anda miliki.

Cobalah untuk memulai dengan melakukan gerakan sederhana seperti squat atau sit-up. Proses pembentukan otot memerlukan waktu, namun melakukan olahraga sangat bermanfaat untuk lansia. Anda bisa memulainya dengan cara melakukan gerakan yang low-impact, seperti squat (menggunakan kursi yang ada di rumah), taichi, berenang, berjalan, bersepeda. Jika Anda melakukan hal tersebut dengan rutin setidaknya dalam waktu 6  minggu, Anda akan merasakan dampaknya bagi kesehatan, seperti lebih merasa bugar dan kuat.

Bila Anda berusia 65 tahun atau bahkan lebih, Center for Disease Control and Prevention (CDC) menganjurkan untuk melakukan olahraga aerobik minimal 150 menit per minggu dengan tingkat intensitas gerakan yang sedang. Sedangkan 75 menit per minggu untuk olahraga yang berintesitas tinggi.

 

2.Melatih kekuatan

Meskipun Anda melakukan olahraga untuk melatih beberapa otot saja, hal ini tetap memberikan dampak besar untuk lansia. Dengan begitu setidaknya Anda mampu dan kuat untuk mengangkat belanjaan ketika berbelanja, menaiki tangga, dan bangun dari tempat tidur atau kursi. CDC merekomendasikan untuk melatih kekuatan otot setidaknya 2 kali dalam seminggu.

 

Anda bisa melakukannya dengan berlatih mengangkat sesuatu beban yang ringan, seperti 500 gram atau 1 kg dan dilakukan secara rutin, 10 hingga 15 kali setiap latihannya. Hal ini membantu Anda untuk memperkuat otot lengan dan otot dada. Selain itu, gerakan push-up, squat, atau sit-up yang sangat sederhana untuk dilakukan dapat menguatkan otot kaki, otot punggung, otot perut, otot bahu, otot lengan, dan otot dada.

Untuk memudahkan Anda, berikut modifikasi gerakan push-up yang dapat dilakukan:

a. Berdiri berhadapan dengan tembok dan beri jarak sekitar 30 cm dari posisi Anda berdiri.

b. Condongkan badan Anda ke arah tembok dan letakkan kedua telapak tangan Anda setara dengan bahu pada tembok tersebut.

c. Perlahan-lahan, tekuk siku Anda dan lakukan seperti gerakan push-up.

Lakukan hal tersebut 10 kali.

 

3.Melatih keseimbangan

Dari data CDC, diketahui bahwa setiap tahunnya terdapat 2,5 juta lansia yang dibawa ke bagian instalasi gawat darurat akibat cedera karena jatuh. Kelompok lansia rentan cedera akibat jatuh karena kemampuan keseimbangannya menurun seiring dengan bertambahnya usia. Namun, jika keseimbangan dilatih maka hal tersebut dapat dicegah. Yoga adalah salah satu olahraga yang dapat melatih keseimbangan pada lansia. Lalu gerakan sederhana apa yang dapat dilakukan untuk melatih keseimbangan pada kelompok lansia?

Cobalah beberapa gerakan ini untuk melatih keseimbangan Anda:

a.Berdirilah membelakangi kursi. Usahakan kursi yang dipakai kuat untuk menahan diri Anda.

b.Salah satu tangan memegang pinggung, sementara letakkan telapak tangan satunya di kursi yang berada di belakang Anda.

c.Kemudian tekuk kaki kanan dan tahan selama 10 detik.

d.Lakukan hal ini bergantian dengan kaki kiri dan diulangi sebanyak 9 kali, jika lelah, Anda boleh berhenti sebentar kemudian melanjutkannya kembali.

 

 

4. Melatih kelenturan

Apakah Anda merasa kaku dan kemudian hal itu menghambat aktivitas Anda sehari-hari? Atau apakah Anda pernah merasakan otot tegang pada tubuh? Jika ya, maka hal ini menunjukkan bahwa Anda butuh melakukan peregangan. Peregangan adalah hal yang harus Anda lakukan setiap hari untuk mencegah kram otot atau kekakuan pada otot. Sebelum melakukan peregangan, mulailah dengan melakukan pemanasan dengan berjalan santai selama 3 hingga 5 menit. Berikut adalah gerakan peregangan otot leher yang dapat dilakukan bahkan ketika Anda duduk:

Perlahan-lahan putar kepala Anda ke kanan dan tahan selama 10 hingga 30 detik.

Lakukan hal tersebut namun ganti arah menjadi ke kiri.

Ulangi minimal 3 kali gerakan.

Jika Anda sudah lama tidak melakukan olahraga dan ingin memulai melakukannya kembali maka lakukan dengan pelan-pelan dan bertahap. Anda bisa secara bertahap membangun daya tahan otot, kekuatan otot, keseimbangan, lalu kelenturan tubuh. Hal yang paling sederhana dan mudah dilakukan untuk memulai  berolahraga kembali adalah dengan cara berjalan santai sekitar 5 hingga 10 menit beberapa waktu dalam seminggu ketika Anda berjalan setidaknya 30 menit dan dilakukan dengan rutin, maka tubuh Anda semakin siap untuk melakukan olahraga yang lebih sulit atau lebih lama lagi, karena kekuatan dan kebiasaannya sudah terbentuk, sehingga anda bisa melakukannya dengan rutin di kemudian hari.